Senin, 21 Maret 2011

MENTALITAS MASSA

Matius 27:20 Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati.

Ketika mempertimbangkan semua peristiwa yang terjadi di sekitar pengadilan dan penyaliban Yesus, saya berpikir bagaimana kita menjadi seperti massa di sekitar Pilatus. Para pemimpin agama telah mempengaruhi masa untuk membebaskan Barabas dan menyalibkan Yesus.

Sekarang, para pemimpin agama sering membujuk massa untuk melawan Alkitab dan kaum fundamentalisme alkitabiah. Memang, beberapa "masalah" dengan Fundamentalisme adalah masalah legitimasi—diktator pastoral yang disembah, easy believism, pertumbuhan kuantitas dengan mengorbankan pertumbuhan rohani/kualitas, subjektivitas gembala diberitakan sebagai kebenaran Alkitab, dll. Tetapi, ini tidak berarti kita harus membuang kebenaran sejati.

Tampaknya banyak IFB sedang tersapu mentalitas massa dan menganggapnya biasa dan bukan sebagai kesalahan. Kaburnya garis batas dan lemahnya penegakkan kebenaran tersebut tidak hanya menyakiti generasi ini, tetapi akan menyakiti orang-orang  yang mengikuti kita. Ketika gereja menanggalkan distinctives’kekhasan’ mereka, generasi berikutnya akan merasa lebih sulit untuk mengingat mengapa mereka terpisah/berbeda dari orang lain sebagai kaum Baptis. Ini akan memberikan keuntungan bagik gerakan ekumenis untuk mencengkeram mereka.

Mungkin memang ada keselamatan dalam jumlah (kuantitas), tetapi Yesus pun tampaknya tidak memiliki jumlah yang besar ketika jalan yang dilaluinya semakin sulit. Ya, gerakan IFB mungkin minoritas, tapi itu tidak apa-apa. Alih-alih membiarkan massa Evangelikal Baru dan Reformasi Protestan mendikte apa yang benar dan yang salah, marilah kita kembali kepada Allah dan Firman-Nya sebagai standar iman dan praktek.

Markus 9:38-40 Kata Yohanes kepada Yesus: "Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita." Tetapi kata Yesus: "Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku.
Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.

Sebagian besar mentalitas massa kita adalah, "Hei, mereka tidak mengikuti kita!" Namun, perhatian kita tidak boleh apakah orang mengikuti kita atau tidak, tetapi apakah mereka mengikuti Yesus. Kirtanya kita menerima nasihat ini dan berhenti menghabiskan begitu banyak waktu khawatir tentang pelayanan orang dan gereja-gereja lain dan lebih khawatir tentang kita sendiri. Ini bukan bermaksud bahwa kita tidak berurusan dengan guru-guru palsu ketika doktrin korup mereka mempengaruhi pelayanan kita, melainkan marilah kita buang balok dari mata kita dulu sehingga kami dapat membantu orang lain menarik selumbar dari mata mereka.

Mari kita semua melawan "mentalitas massa" yang dianggap biasa pada saat ini dan mengikuti Tuhan dan FirmanNya dalam semua yang kita lakukan.

Jumat, 18 Maret 2011

APAKAH ANDA BEJANA YANG SIAP?


Jika Anda menggambarkan diri Anda sebagai bejana, bejana apakah  itu? Mengapa?
  • Vas
  • Mangkuk
  • Cangkir
  • Kendi
  • Gelas
  • Kaleng
  • Guci
  • Ceret
  • Wajan
  • Teko
  • Panci
Bejana dapat ditemukan di dapur. Ada yang baru, ada yang masih bisa digunakan. Beberapa ada yang sedikit kusam dan penyok, sementara yang lain hanyalah untuk pajangan. Ada yang sudah menghitam karena kompor, sementara yang lain dipoles hingga mengkilap. Ada bejana yang dipakai untuk keperluan sehari-hari, ada juga yang dikeluarkan hanya jika ada tamu. Ada yang dipakai untuk mempersiapkan sesuatu dan ada yang dipakai untuk melayani. Namun semua berguna ... Bejana-bejana itu berbeda-beda untuk tujuan yang berbeda pula.

Bacalah 2 Tim. 2:20-22
·         Bahan apakah yang dipakai untuk membuat bejana? Gambaran apakah yang diwakilinya? Untuk tujuan apakah?
·         Mengapa wadah yang kudus itu penting?
·         Bagaimana bersih dan kudus itu berhubungan satu sama lain?
·         Bagaimana kita membuat diri kita berguna bagi Tuhan?
·         Bagaimana kondisi yang mempersiapkan kita untuk SETIAP pekerjaan baik?
·         Bagaimana ayat 22 berhubungan dengan persiapan itu? 

Siapkan diri Anda menjadi bejanan yang akan digunakan oleh Allah. Jangan menunggu ... Jangan hanya diam terpajang di rak.

Seorang setan muda akan diutus ke bumi pada misi pertamanya. Misinya adalah untuk menumpulkan efektivitas orang percaya. Saat membahas strategi dengan Iblis, ia berkata, "Aku Tahu ... aku akan mencoba untuk meyakinkan orang Kristen bahwa dosa itu tidak ada sehingga mereka tidak akan memiliki alasan untuk memberitakan Injil." Iblis menjawab, “Itu mungkin akan berhasil pada beberapa orang Kristen, tapi tidak banyak. Bahkan mereka yang masih kuperbudak saja tetap memiliki pandangan bahwa dosa itu memang merusak." Lanjut setan muda itu, "Aku akan meyakinkan mereka bahwa neraka itu tidak ada."  Pemikiran bagus!" jawab Iblis." "Kenyataan bahwa teman-teman mereka dan anggota keluarga mereka akan menderita hukuman kekal adalah motivasi besar bagi orang Kristen untuk bersaksi.” Setan muda itu berhenti berpikir sejenak, kemudian wajah gembira disertai senyum jahat menghiasi wajahnya. "Aku tahu! Aku akan meyakinkan orang Kristen bahwa mereka tidak perlu terburu-buru. Mereka dapat menjaga doktrin-doktrin dosa dan neraka mereka, saya hanya akan meyakinkan mereka bahwa mereka tidak perlu berpikir tentang hal itu sekarang. Tentu saja, mereka boleh bersaksi, tetapi taka pa-apa jika dilakukan minggu depan ... mungkin saja, minggu depan tidak akan pernah datang!" ”Engkau punya strategi yang baik," jawab Iblis. "Banyak yang akan pergi ke neraka bersama kita hanya karena teman-teman Kristen mereka berencana untuk bersaksi dengan mereka  … besok. "
Kisah ini hanyalah kisah imajinasi yang menggambarkan betapa kita mungkin sering hanya menjadi bejana kosong yang tidak berguna. Kita sama sekali tidak bisa menjadi saksi yang baik hanya karena penundaan … baik menunda kata-kata maupun menunda perbuatan baik kita pada sesama.  

Berdoalah agar Allah memberikan keinginan untuk membuat hidup Anda selalu siap sebagai bejana yang akan digunakan oleh-Nya setiap hari, tanpa penundaan, bahwa Anda mungkin akan berguna bagi Dia!
"Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami" —2 Korintus 4:7

Pelayanan yang Efektif (a vision)


Sejarah memperlihatkan ada pelayanan yang tadinya jaya dan berkembang namun akhirnya runtuh. Namun sejarah juga memperlihatkan ada pelayanan yang terus bertahan sampai ratusan tahun. Apakah yang terjadi sehingga ada pelayanan yang bertahan dan ada yang tidak bertahan? Apakah yang menjadi ciri pelayanan yang efektif?
  1. Pelayanan yang efektif dimulai atas dasar kebutuhan dan dilaksanakan atas dasar kesanggupan (Mat. 9:36; Yoh. 4:35). Terlepas dari pengakuan imannya, dalam bukunya, The Purpose-Driven Church, Rick Warren membagikan pemahamannya tentang kapankah seharusnya kita memulai suatu pelayanan. Ia mengumpamakannya dengan berselancar di laut. Orang yang hendak berselancar mesti melihat adanya ombak; tanpa ombak, ia tidak akan dapat berselancar. Sebelum memulai pelayanan, kita pun mesti melihat adanya kebutuhan terlebih dahulu. Bila tidak ada kebutuhan, jangan memulai apa-apa karena itu tidak akan bertahan.
    Selanjutnya, untuk dapat berselancar, dibutuhkan orang yang memang dapat berselancar. Jika tidak, sewaktu ombak datang, orang itu pun akan dengan mudah tergulung ombak. Demikian pula dengan pelayanan. Sebelum memulainya, kita mesti memastikan bahwa akan ada orang yang sanggup melakukannya. Jika tidak, pelayanan itu pun akan gulung tikar.
  2. Pelayanan yang efektif dilaksanakan oleh orang yang hidup kudus di hadapan Tuhan (Yes. 6:5-8). Yesaya dikuduskan Allah sebelum ia siap diutus untuk melayani Tuhan. Tidak ada yang dapat menggantikan kehidupan yang saleh dan berkenan kepada Allah. Sebuah pelayanan hanyalah akan berbuah selebat buah kehidupan pelakunya. Begitu banyak pelayanan yang akhirnya runtuh akibat kehancuran hidup pelakunya. Oleh karena belas kasihan Tuhan, acap kali Tuhan memberi kesempatan kepada pelaku pelayanan untuk terus melayani-Nya kendati hidupnya berdosa (Why. 2:5). Namun, jangan disalahartikan seakan-akan Tuhan buta akan dosanya. Sesungguhnya Tuhan memberinya kesempatan untuk bertobat. Bila ia mengeraskan hati, suatu hari kelak ia akan ditinggalkan Tuhan dan pelayanan itu pun berhenti.
    Kehidupan pelaku pelayanan yang tidak kudus pada akhirnya akan mencemarkan semua sendi pelayanan itu sendiri (Gal. 5:9). Ini sesuai dengan sifat dosa yang terus menyebar dan berkembang biak. Itu sebabnya pelayanan yang efektif adalah pelayanan yang berani memangkas ranting yang tidak berbuah, sebagaimana dikatakan oleh Tuhan Yesus di Yohanes 15:2, "Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah."
  3. Pelayanan yang efektif dilakukan oleh orang yang hidupnya efektif (2Tim. 2:15). Ada orang yang hidupnya tidak efektif. Ia membuang waktu sembarangan, memakai uang seenaknya, memperlakukan orang semaunya, serta merencanakan sekenanya. Orang yang hidupnya sendiri tidak efektif tidak akan dapat melakukan pelayanan yang efektif. Dituntun Tuhan dan beriman kepada-Nya tidak identik dengan hidup seenaknya; sebaliknya, dituntun Tuhan dan beriman kepada-Nya menuntut adanya pertanggungjawaban dan kehati-hatian. Di dalam perumpamaan "Gadis yang Bijaksana dan Bodoh" serta perumpamaan tentang "Talenta" di Matius 25 jelas terlihat adanya tuntutan untuk hidup bertanggung jawab dan berhati-hati. Berapa banyak pelayanan yang hancur karena pelaku pelayanan hidup tidak bertanggung jawab dan sembarangan?
  4. Pelayanan yang efektif dapat mengoreksi dirinya sendiri (2Kor. 13:5; Mzm. 26:2; 139:23). Ini berarti tidak ada seorang pun yang berani meninggikan diri serta menutup diri terhadap kritik terhadap kelemahan pribadi. Pelaku pelayanan harus tidak segan mengakui kesalahan yang terjadi dan bersedia untuk ditegur. Sayangnya ada banyak pelayanan yang diisi oleh orang yang cepat puas diri dan tangkas menepuk dada. Akhirnya orang ini tidak lagi terbuka terhadap saran dari sesama dan bila ini terjadi, pastilah tidak lama lagi ia pun akan sulit mendengar suara Tuhan.
    Itu sebabnya pelaku pelayanan mesti membudayakan kebiasaan bersedia dikoreksi. Jika pelaku pelayanan menerapkan budaya "tidak pernah salah," maka sesungguhnya ia tengah meluncur ke jurang kehancuran. Raja Saul tidak dikelilingi oleh orang yang berani menegurnya sebab ia memang tidak bersedia ditegur. Pada akhirnya ia hanya dikelilingi oleh orang yang mengatakan apa yang ingin didengarnya (1Sam. 13:8-14; 15:20-21). Kita tahu akhir kehidupannya: kebinasaan. Sebaliknya dengan Raja Daud. Ia dikelilingi orang yang berani menegurnya sebab itulah budaya yang diterapkannya. Ia bersedia ditegur manusia dan orang yang bersedia ditegur manusia lebih mudah ditegur Tuhan (2Sam. 12:1-15). Akhirnya, Daud selamat bahkan kerajaannya pun dikokohkan!
Kiranya, kita dapat melayani dengan efektif sampai Tuhan Yesus datang kembali. Pelayanan besar dan kecil, kiranya Tuhan Yesus dimuliakan. Maranatha! Amin.


—allofgrace—

MENGAPA SULIT BERDOA? (Mat. 26:40)


“Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?” (Mat. 26:40).
Kita menyadari bahwa doa adalah bagian penting dalam kehidupan rohani namun tidak selalu kita setia melakukannya. Ada saja halangan untuk berdoa dan kerinduan itu tidak selalu muncul. Berikut akan dijelaskan penyebab mengapa sulit berdoa dan beberapa saran untuk kembali berdoa.
  • Penyebab pertama mengapa sulit berdoa adalah karena kita orang berdosa (Yes. 59:1-2; Rm. 3:23). Oleh karena kita orang berdosa, secara alamiah kita tidak tertarik untuk berdoa. Bukankah tatkala kita sedang hidup dalam dosa, kita makin sukar berdoa? Kita mencoba menjauhkan diri dari Tuhan karena jika kita berdoa, kita bercakap-cajap dengan-Nya dan kita takut dosa kita itu disingkapkan-Nya. Jadinya, kita malas dan enggan berdoa karena ada dosa yang hendak kita tutupi. Singkat kata, DOSA dan DOA itu saling berlawanan. Di mana ada DOSA, DOA pun sirna. Itu sebabnya kita mesti memelihara kehidupan yang suci di hadapan Tuhan. Kesucian hidup makin mendorong kita bersekutu dengan Tuhan dan membuat kita makin ingin menikmati kehadiran-Nya dan firmannya. Orang yang sungguh-sungguh memiliki hati untuk Firman Allah akan mengingini Firman Allah terus menerus. Orang yang hidup dalam kekudusan akan selalu rindu untuk bersekutu dengan Allah yang Mahakudus.
  • Penyebab kedua mengapa kita sulit berdoa adalah karena kita merupakan target serangan Iblis yang senantiasa berupaya menjauhkan kita dari Tuhan (1Ptr. 5:8). Tidak ada yang lebih dirindukan Iblis selain melihat kita jauh dari Tuhan dan kasih-Nya. Iblis tahu bahwa di dalam doa, kita berada dalam hadirat Allah secara nyata dan inilah yang tidak diinginkannya. Iblis tahu persis bahwa doa bisa mengubah banyak hal. Karenanya, ia tidak menginginkan itu. Doa sungguhlah suatu peperangan rohani (Ef. 6:18). Ia juga tidak ingin kita berubah dan diubah dengan doa. Itu sebabnya tatkala kita ingin berdoa, ia selalu menghadirkan kepentingan lain yang mendesak untuk dilakukan terlebih dahulu. Ia berusaha meyakinkan kita bahwa doa dapat menunggu sedangkan kepentingan lain tidak dapat menunggu.
  • Penyebab ketiga mengapa kita sulit berdoa adalah karena kita kurang dapat mengatur waktu dengan baik (Mzm. 90:12). Adakalanya kita sukar berdoa karena memang kita tidak bijaksana dalam mengatur waktu. Akhirnya waktu untuk berdoa tersisihkan dan tergantikan oleh hal lain yang memang harus dikerjakan. Hidup memang berisikan tuntutan dan tugas yang kadang harus dikerjakan dengan segera. Kita tidak boleh meninggalkan tanggung jawab kita atas nama doa. Dengan kata lain, doa harus menjadi aktivitas yang terjadwal. Jika kita memperlakukan doa ala kadarnya—kalau ada waktu, berdoa, kalau tidak ada waktu, ya tidak usah berdoa—maka perlahan namun pasti doa akan terhilang dari kehidupan kita. Masalahnya adalah sewaktu doa hilang, akan hilang pulalah kedekatan dengan Tuhan (Ef. 5:16).
  • Penyebab keempat mengapa kita sulit berdoa adalah karena sering kali kita kehilangan keseimbangan hidup: kita sudah menjadi terlalu sibuk sehingga pikiran kita terus terisi dengan tugas yang menunggu untuk dikerjakan. Adakalanya kita beranggapan, "Ah tidak apa saya tidak berdoa secara formal, bukankah saya dapat berdoa di dalam hati?" Sudah tentu kita dapat berdoa di dalam hati , namun kita juga tetap harus menyediakan waktu untuk berdoa secara khusus sebab di sinilah letak nilai kekhususannya. Bayangkan bagaimana perasaan kita bila kita berbicara dengan seseorang yang tidak menoleh dan terus berjalan? Bukankah kita akan berkata bahwa ia tidak menghormati kita atau setidaknya, ia tidak punya waktu untuk kita? Demikian pula dengan Tuhan. Daniel adalah seorang yang sibuk sebagai presiden pertama (Dan. 6:1-2—KJV) atas Kerajaan Media Persia, di bawah Raja Darius. Namun, dalam segala kesibukannya, Daniel tetap berdoa secara rutin, bahkan saat menghadapi ancaman penghukuman raja sekalipun (Dan. 6:11).
  • Penyebab kelima mengapa kita sulit berdoa adalah karena kita tidak mementingkan doa dan lebih mementingkan tindakan langsung. Doa sesungguhnya memiliki manfaat yang besar (Yak. 5:16-17). Doa bisa mengubah kita dan juga Tuhan. Berdoa berarti menunggu kehendak Tuhan dan bagi orang yang kurang sabar, berdoa sama dengan membuang waktu. Kadang, kita terjebak ke dalam perangkap ketidaksabaran dan langsung melakukan sesuatu tanpa mendoakannya terlebih dahulu. Satu hal yang mesti kita ingat adalah bahwa sesungguhnya kita adalah alat semata. Tuhan mengerjakan dan menggenapi rencana-Nya sedangkan kita hanyalah alat di tangan-Nya. Jadi, sudah seyogianya kita menunggu dan meminta kehendak-Nya.
Firman Tuhan: "Apakah Tuhan itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara Tuhan? Sesungguhnya mendengarkan lebih baik daripada korban sembelihan, memperhatikan lebih dari baik daripada lemak domba-domba jantan." (1 Samuel 15:22)
Bila kita sering berdoa, kita akan sering mendengar suara Tuhan. Bila kita jarang berdoa, kita akan lebih sering mendengar suara orang dan suara diri sendiri. Amin. “Tetaplah berdoa” (1Tes. 5:17).
—allofgrace—

BOLEHKAH MENGHAKIMI?

Pertanyaan “Bolehkah menghakimi?” adalah salah satu teka-teki bagi bagi banyak orang percaya. Ada yang mengatakan dengan keras tidak boleh menghakimi tetapi tetap melakukannya dalam beberapa hal pengambilan keputusan dan penilaian. Namun, ada pula yang membolehkannya dan melakukannya secara membabi buta.
Sebuah pembelajaran dan perenungan yang hati-hati serta berpikiran yang terbuka terhadap Alkitab ternyata menjelaskan bahwa tentang hal-hal penting tertentu, menghakimi itu bukan hanya benar, melainkan juga merupakan tugas positif orang percaya. 

ALKITAB MEMERINTAHKAN UNTUK MENGHAKIMI
Tuhan Yesus Kristus memerintahkan, "Hakimilah dengan adil/benar" (Yoh. 7:24). Dia berkata kepada Simon, "Engkau telah menghakimi dengan benar" (Luk. 7:43—KJV). Kepada orang lain, Tuhan kita bertanya, "Mengapakah engkau juga tidak memutuskan/menghakimi sendiri apa yang benar?" (Luk. 12:57).
Rasul Paulus menulis, "Aku berbicara kepadamu sebagai orang-orang yang bijaksana. Pertimbangkanlah (judge—KJV) sendiri apa yang aku katakan!" (1 Kor. 10:15). Sekali lagi, Paulus menyatakan, " Tetapi manusia rohani menilai (judge—KJV) segala sesuatu" (1Kor. 2:15). Jadi sebenarnya, menghakimi adalah tugas positif kita. 

GURU PALSU DAN AJARAN PALSU
"Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu!" (Mat. 7:15) adalah peringatan dan perintah Tuhan kita. Tapi bagaimana mungkin kita "waspada" dan bagaimana kita bisa tahu bahwa mereka adalah "nabi-nabi palsu" jika kita tidak menghakimi/menilai mereka? Dan apakah standar yang diberikan dengan Tuhan untuk menilai? "Siapa yang tidak berbicara sesuai dengan PERKATAAN ITU, maka baginya TIDAK terbit fajar" (Yes. 8:20). " Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka," kata Kristus (Mat. 7:16). Dan dalam menilai "buah," kita harus menilai dengan Firman Tuhan, bukan oleh apa yang menarik bagi penalaran kita. Banyak hal tampaknya baik dalam penilaian manusia tetapi ternyata keliru dalam pandangan Firman Allah.
Rasul Paulus menasihati orang-orang percaya, "Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka! Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya" (Rm. 16:17-18). Perintah apostolik ini tidak dapat ditaati kalau kita tidak boleh menghakimi. Tuhan ingin kita tahu Firman-Nya dan kemudian menguji semua guru dan pengajaran dengan firman itu. Perhatikan juga bahwa itu guru-guru palsulah yang membuat "perpecahan," dan bukan mereka yang protes terhadap ajaran palsu mereka. Dan penipu ini tidak melayani Kristus, seperti pengakuan mereka, "tetapi melayani perut mereka sendiri," dengan kata-kata dan bahasa yang muluk-muluk. Kita harus."menandai mereka" dan "menghindari mereka."
Keluarlah kamu dari antara mereka,  dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan” (2Kor. 6:17; baca juga ayat 14-18).
"Jauhilah mereka itu" (2Tim. 3:5). "Supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami" (2Tes. 3:6).
"Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu" (Ef. 5:11)
"Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik" (Rm. 12:9).
" Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik" (1Tes. 5:21)
Tampaknya, tidak mungkin untuk mematuhi perintah Firman Tuhan ini kecuali itu diperbolehkan untuk menghakimi. Dan ingat, tidak ada yang "baik" di hadapan Allah yang ternyata tidak benar sesuai FirmanNya.
Rasul Yohanes menulis, Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia” (1Yoh. 4:1). Sekali lagi ia menulis, "Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus ... Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat" (2Yoh. 7, 10-11). Kitab Suci memerintahkan kita untuk menghakimi antara mereka yang melakukan dan mereka yang tidak membawa ajaran Kristus yang sejati.
Setiap kali seorang anak Allah memberikan kontribusi keuangan kepada denominasi yang mendukung misionaris atau atau pengajar-pengajar Modernisme, ia berdosa di hadapan Allah, menurut Kitab Suci ini. Dan ia, dengan demikian, menjadi "pengikut" mereka dalam "perbuatan jahat" dalam menyebarkan racun yang menghancurkan jiwa. Sungguh mengerikan, tetapi itulah kebenaran! Bangkitlah, anak Allah. Jika Anda merasa berdosa demikian, mintalah Allah untuk mengampuni Anda dan membantu Anda untuk tidak pernah lagi menyesatkan jiwa-jiwa yang untuk mereka Kristus telah mati. Ketika kita rela menderita bagi Kristus, kita dapat dengan mudah melihat kebenaran Firman Tuhan mengenai hal ini. "Jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita" (2Tim. 2:12). 

KITAB SUCI YANG Disalahpahami dan disalahgunakan
Salah satu ayat yang paling terkenal dan paling penting dan disalahgunakan adalah Matius 7:1. Mari kita perhatikan seluruh bagian:
"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu" (Mat. 7:1-5).
Bacalah lagi dengan hati-hati. Perhatikan bahwa ayat itu ditujukan kepada orang munafik—bukan orang tulus yang ingin mengetahui apakah seorang guru atau ajaran adalah benar atau salah sesuai Firman Tuhan. Dan bukannya larangan terhadap penilaian yang jujur, ayat itu merupakan peringatan serius atas penghakiman munafik. Bahkan, pernyataan terakhir dari bagian Alkitab ini memerintahkan penghakiman tulus, "Engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."
JIKA KITA MENGAMBIL SATU BAGIAN DARI AYAT ITU KELUAR DARI KONTEKSNYA, KITA BISA MEMBUAT FIRMAN ALLAH ITU TAMPAK MENGAJARKAN SESUATU YANG BERTOLAK BELAKANG DENGAN APA YANG SESUNGGUHNYA DIAJARKAN. Dan mereka yang melakukan hal ini tidak bisa lepas dari penghukuman Allah karena memutarbalikkan Firman-Nya (2Ptr. 3:16). Kiranya ini menjadi peringatan bagi kita tidak pernah lagi untuk mengambil teks Kitab Suci keluar dari konteksnya.
Banyak yang mengutip, " Jangan kamu menghakimi," keluar dari konteksnya, untuk membela apa yang salah menurut Firman Tuhan, tidak melihat inkonsistensinya dalam menghakimi/menilai mereka yang menaati Firman Tuhan tentang menghakimi apa yang tidak benar sesuai Alkitab. Tragisnya, begitu banyak ajaran yang anti-Alkitab telah menemukan tempat berlindung di balik penyalahgunaan Alkitab yang dikutip di atas.
Alasan Kekristenan hari ini menjadi sarang lebah dan lumpuh oleh setan Modernisme adalah karena orang Kristen tidak mematuhi perintah Firman Tuhan untuk menghakimi dan menyingkirkan dan memisahkan dari guru-guru palsu dan ajaran palsu ketika semuanya itu pertama kali muncul di tengah-tengah mereka. Kesehatan fisik ditentukan oleh pemisahan dari kuman penyakit. Kesehatan spiritual ditentukan oleh pemisahan dari kuman doktrin palsu. Bahaya terbesar masa kita hari ini bukanlah karena terlalu banyak menghakimi, melainkan karena terlalu sedikit menghakimi kepalsuan rohani. Tuhan ingin anak-anakNya menjadi seperti orang Berea yang lebih baik karena "setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian" (Kis. 17:11).
Roma 2:1-3 juga ditujukan kepada orang munafik agama yang mengutuk dirinya sendiri karena ia bersalah karena hal yang sama yang dituduhkan kepada orang lain. Yakobus 4:11-12 mengacu pada apa yang jahat dibalik fitnah dan mencari-cari kesalahan, bukan untuk menilai/menghakimi apakah guru atau ajaran itu selaras dengan Firman Tuhan atau tidak. Alkitab tidak pernah bertentangan dengan dirinya sendiri. Untuk memahami satu bagian Alkitab, kita harus melihatnya dalam terang seluruh Alkitab pula. "Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri" (2Ptr. 1:20). "Kami menafsirkan (membandingkan—KJV) hal-hal rohani (dengan yang rohani) kepada mereka yang mempunyai Roh" (1Kor. 2:13). 

GANDUM DAN ILALANG
Perumpamaan "gandum dan ilalang" di Matius 13:24-30, 36-43, juga banyak disalahpahami. Pertama-tama, Tuhan kita berbicara tentang dunia, bukan jemaat-Nya .—ladang ialah dunia". Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa “benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat" (Mat. 13:38). Mereka adalah dua kelompok yang ada di dunia: anak-anak Allah—mereka yang telah menerima Kristus (Yoh. 1:12), dan anak-anak Iblis—mereka yang menolak Kristus (Yoh. 8:44). Ketika salah satu dari "anak-anak si jahat" masuk ke dalam jemaat Kristus, karena mereka pasti melakukannya, sebuah prosedur pasti bagi anak-anak Allah ditetapkan dalam Alkitab. Pertama, adalah tugas mereka untuk memberitahu kepada mereka bahwa mereka telah "tidak boleh ambil bagian" dalam Kristus (lihat Kis. 8:21-23 dan konteksnya). Jika anak-anak Iblis ini tidak mau meninggalkan secara sukarela, seperti yang umumnya terjadi, anak-anak Allah diperintahkan untuk "membuang" orang-orang ini (1Kor. 5:7). Tetapi, umat Allah telah mendurhakai Firman-Nya tentang hal ini, dan orang tidak percaya itu telah menguasai, seperti yang sekarang terjadi di sebagian besar denominasi. Oleh karena itu, orang yang mau hidup benar bagi Kristus dan Firman-Nya diperintahkan untuk "Keluarlah kamu dari antara mereka,  dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan" (2Kor. 6:17), terlepas dari apa yang berharga di situ atau pertimbangan lain. Ketika kita menaati Firman Tuhan, kita dapat mempercayai-Nya untuk mengurus segala konsekuensi dari ketaatan kita itu. 

HAL-HAL LAIN YANG PERLU DIHAKIMI
Perilaku amoral yang dilakukan orang mengaku percaya kepada Kristus haruslah dihakimi. 1 Korintus 5 menceritakan kisah sedih dan ditutup dengan perintah apostolik, "Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu" (1Kor. 5:13).
Perselisihan antara orang-orang Kristen tentang "perkara-perkara biasa dalam hidup kita sehari-hari" (1Kor. 6:3) harus dinilai oleh pengadilan sesama orang percaya bukannya pergi kepada pengadilan sipil atau orang-orang yang tidak percaya. Mengungkapkannya kepada mereka sama dengan membuka aib jemaat sendiri dan itu memalukan. Gosip dan fitnah haruslah dihindari karena itu merupakan penghakiman yang keji dan tidak akan membawa perubahan apapun selain memuaskan para pelakunya. Jemaat bukanlah tempat anggotanya menggosip dan memfitnah, tetapi tempat orang-orang di dalam anggota tubuh Kristus saling membangun, mengasah, mengasihi, dan mengasuh. Kejatuhan dan kegagalan satu anggota jemaat merupakan kejatuhan dan kegagalan seluruh tubuh. Tak ada gunanya dan untungnya serta kebanggaannya melihat anggota tubuh yang lain jatuh, sementara yang lain bersorak kegirangan. Itu jelas bukan jemaat yang sehat!
Pasal enam seluruh Surat 1 Korintus memuat rencana Allah yang jelas bagi jemaat-Nya dalam hal ini. Dan beberapa kebenaran yang mengejutkan terungkap di sini: Pertama, "orang-orang kudus akan menghakimi dunia." Kedua, "kita akan menghakimi malaikat-malaikat" (1Kor. 6:2-3). Saudaraku, maukah kita dipersiapkan Tuhan untuk pelayanan di tempat tinggi itu? Belajarlah sekarang dengan memakai standar yang dipakai Allah, Alkitab!
Kita juga harus menghakimi diri kita sendiri. "Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu!" (2Kor. 13:5). "Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita. Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia" (1Kor. 11:31-32). Betapa hebatnya perubahan dan berkat jika kita mau menilai kesalahan kita sendiri seperti yang kita lakukan terhadap kesalahan orang lain—dan jika kita mau menilai kelemahan orang lain seperti yang kita lakukan terhadap diri kita sendiri! Dan orang percaya akan bisa menyelamatkan diri sendiri dari banyak hajaran Tuhan jika mereka mau menghakimi dan mengakui dan berhenti dari ketidaktaatan mereka kepada Allah. 

BATAS-BATAS PENGHAKIMAN MANUSIA
Kita tidak menghakimi keberatan sesama kita. Allah melarang kita menilai saudara-saudara kita sehubungan dengan makan jenis makanan tertentu, menjaga hari, dll. (Rm. 14; 1Kor. 10:23-33; dan Kol. 2:16-17).  Jadi, jika ada orang yang pantang makanan tertentu, memandang satu hari berbeda dengan yang lain, kita tidak boleh menghakimi mereka. Menurut Alkitab, mereka bukanlah orang yang belum percaya, tetapi orang yang imannya masih lemah. Tuhan tetap menerima mereka apa adanya. Mereka juga harus kita terima sebagai orang yang lebih lemah imannya dan tidak membingungkan mereka.
Kita juga tidak menghakimi motif. Lihat 1 Korintus 4:1-5. Hanya Allah yang dapat melihat ke dalam hati dan mengetahui motif yang mendasari tindakan seseorang. Motif memang tersembunyi di dalam hati. Hanya dirinya sendirilah yang juga mengetahui ‘udang apa di balik batu’ itu.
Kita juga tidak menghakimi siapa yang diselamatkan. "Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya" (2Tim. 2:19). Jadi, Tuhan tidak akan bingung dalam mengetahui apakah seseorang itu sudah benar-benar lahir baru atau tidak. Tuhan Yesus jauh lebih tahu akan hal itu dan di hadapan-Nya, semua orang takkan dapat menyangkal-Nya. Kita tidak dapat melihat ke dalam hati seseorang dan mengatakan apakah mereka telah menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi atau belum atau tidak, jika mereka mengakui bahwa mereka sudah percaya. Kita hanya sebatas tahu berdasarkan pengakuannya bahwa seseorang itu telah bertobat dan menerima Kristus. Tetapi, kita lebih baik menguji diri kita sendiri sesuai dengan 2 Korintus 5:17, "Jadi siapa yang ada DI DALAM KRISTUS, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Jika perubahan ini tidak terjadi, pengakuan kita pun menjadi sia-sia.
 
UNSUR DALAM PENGHAKIMAN
Kata Yunani Perjanjian Baru yang paling sering diterjemahkan "hakim" atau "penghakiman" adalah "krino". Di satu sisi, itu berarti “membedakan, memutuskan, menentukan, menyimpulkan, menguji, memikirkan, dan mempertanyakan”. Itulah yang Tuhan ingin anak-anakNya lakukan kepada setiap pengkhotbah, guru, dan ajaran mereka apakah benar atau salah sesuai dengan FirmanNya.
Rasul Paulus menulis, Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus (Flp. 1:9-10). Suatu ide yang salah tentang kasih dan kurangnya pengetahuan serta penghakiman menyebabkan umat Allah sering untuk menyetujui hal-hal lain yang baik tetapi bukan yang terbaik di hadapan Allah. Surat Ibrani member tahu kita bahwa orang percaya yang matang, yaitu, mereka yang “dewasa penuh,” menggunakan indera mereka untuk membedakan yang baik dan yang jahat “(Ibr. 5:14).
Di sisi lain, kata “krino” Yunani—berarti “hakim” atau “penghakiman”—berarti “menghukum”, “memutuskan”, dan “mengutuk”. Ini adalah hak it adiive Allah, karena Dia telah berkata, “Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan” (Rm. 12:19).
Jadi, orang Kristen untuk berlatih untuk “membedakan”, dan bukan “balas dendam”. 

MELINDUNGI SIKAP YANG SALAH
Orang percaya harus waspada terhadap kecenderungan daging untuk menganggap sikap kritis dan mencari-cari kesalahan dalam hubungannya dengan doktrin Alkitab dan perilaku moral. Daripada “mengecam” saudara-saudara it adi dalam Kristus, adalah kehormatan dan kewajiban bagi kita untuk melakukan segala yang kita bisa untuk mendorong pembangunan spiritual mereka. Saat kita menilai seseorang, kiranya kita tetap memiliki tujuan untuk berttumbuhnya mereka dalam kasih dan pengenalan akan Tuhan. Demikianlah pula adanya jika kita dinilai dengan firman Allah. Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan” (Gal. 6:1). Kita harus saling mengasihi dan saling mendoakan serta menguji diri sendiri agar kita tidak jatuh.

KATA-KATA TERAKHIR
Jika Anda sudah selamat, janganlah kita lupa bahwa “kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus” (2Kor. 5:10). Ini akan menjadi saat yang baik bagi mereka yang mempelajari Firman Allah, berjalan dalam terang itu, hidup untuk Kristus dan keselamatan jiwa. Ini akan menyakitkan bagi mereka yang telah menerima Kristus tetapi yang hidup secara duniawi. 
Jika Anda hanyalah orang yang mengaku percaya Tuhan Yesus Kristus, atau belum percaya, bolehlah saya mengingatkan Anda dengan penuh kasih bahwa “ pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?(1Ptr. 4:17). Jangan menunda lain waktu untuk memohon kepada Allah agar Kristus mengampuni dosa-dosa Anda. Serahkanlah hati dan kehendak Anda kepada Juruselamat yang penuh kasih yang telah mati untuk Anda. Jadikanlah Yesus sebagai Tuhan atas hidup Anda. Anda akan berbahagia dan diberkati sekarang dan selamanya. Amin.

Diolah dan disadur dari tulisan David Cloud, Fundamental Baptist Information Service, P.O. Box 610368, Port Huron, MI 48061, 866-295-4143, fbns@wayoflife.org) berjudul “IS IT RIGHT TO JUDGE?”
—allofgrace—