Tampilkan postingan dengan label devotion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label devotion. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juni 2011

7 Alasan Perlunya Belajar Alkitab (Mzm. 119:11)



by All of Grace

Saudara, banyak orang Kristen tidak tahu isi Alkitab. Memang mereka membacanya, apalagi kalau hari Minggu, namun mereka tidak pernah mempelajarinya. Akibatnya, banyak orang yang tidak mengetahui bahwa praktek iman yang mereka lakukan salah karena bertentangan dengan Alkitab. Parahnya, mereka tidak mengetahuinya karena mereka hanya mendengar dari orang lain dan bukan mempelajarinya.
Kita perlu dan harus belajar Alkitab dan mempelajari seluruh kebenaran di dalamnya. Mengapa?
Pertama, belajar Alkitab itu adalah perintah Tuhan. “Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu” (2Tim. 2:15).
Kedua, hanya Alkitab-lah yang menunjukkan jalan keselamatan. Ini berarti bila Anda mendengar berita keselamatan di luar Alkitab, Anda memakai dasar yang salah. “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus” (2Tim. 3:15; band. 1Kor. 15:1-4; Rm. 1:16).
Ketiga, Alkitab memberi jaminan bagi orang percaya. “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Yoh. 10:27-28; band. Flp. 1:6).
Keempat, Alkitab itu memberikan manfaat yang besar. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2Tim. 3:16; 1Tim. 4:8).
Kelima, Alkitab itu kekal selama-lamanya. “tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya." Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu” (1Ptr. 1:25). “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Mrk. 13:31; band. Mzm. 119:89).
Keenam, Alkitab itu akan memberikan damai sejahtera/ketentraman. “Besarlah ketenteraman pada orang-orang yang mencintai Taurat-Mu, tidak ada batu sandungan bagi mereka” (Mzm. 119:165).
Ketujuh, Alkitab akan menjadi hakim saat pengadilan takhta Kristus. “Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman” (Yoh. 12:48).
Karena itu, marilah kita rela untuk terus mempelajari Alkitab. Abda tidak akan rugi, bahkan akan banyak menikmati berkat-berkat Tuhan. Tuhan Yesus memberkati.

--allofgrace--

Selasa, 14 Juni 2011

The Bible

The B-I-B-L-E
Yes, That's the Book for me;
I stand alone on the Word of God:
The B-I-B-L-E.
BIBLE

The Bible is a compass, pointing you in the right direction.

The Bible is a Light and a Lamp for our feet, guiding our steps.
 
The Bible is a Book of Promises, and every one has or will come true.  No other book of prophecy has a 100% success rate.
 
The Bible is cleansing Water that washes filth and corruption from us, making our lives a clean vessel for God's use.
 
The Bible is a shining light, and like a lighthouse, it guides us into the safe harbor of His will.
 
The Bible is Milk, when we are newborn babes in Christ, it nourishes us to grow up.
 
The Bible is Meat; when we start to mature as Christians, it is ever present to feed us the "protein" we need to become strong in the Lord.
 
The Bible is a road map, which leaves every man from any destination to a heavenly home.
 
The Bible is like the rain which waters the earth, and grows the wheat, which makes bread to feed us: it is sent from God to accomplish His desired will.
 
The Bible is a goad, which prods us gently forward to do good and stay away from danger.
 
The Bible is an anvil; although skeptics have beat upon it for centuries, the anvil still remains - the hammers gone!
 
The Bible is the Powerhouse that create both life and faith.
 
The Bible is weapon, equipping the believer in the spiritual battle against evil.

--allofgrace--

Senin, 06 Juni 2011

Langkah Menuju Penyimpangan (Kej. 13:1-13)


--allofgrace--

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, ada banyak contoh di dalam Alkitab yang mengingatkan kita pada kehidupan orang pada masa kini. Salah satu di antaranya ialah Lot. Lot mengingatkan kita betapa akan bahayanya menyimpang dari kehendak Tuhan. Sesungguhnya, Lot memiliki kesempatan untuk menjadi hamba Allah yang setia saat dia berjalan bersama pamannya, Abraham, sahabat Allah. Namun, Lot memilih jalannya sendiri. Dan apa yang tampaknya lembut, manis, dan indah itu telah membawanya kepada penyimpangan. Perhatikan langkah-langkah menuju penyimpangan ini:
Pertama, lemah dari kesetiaan dan ketaatan (Kej. 13:5). Lot memiliki domba, lembu, dan kemah. Namun, dia sama sekali tidak pernah mempersembahkan korban di atas mezbah. Abraham membangun mezbah dan mempersembahkan korban (Kej. 12:7-8; 13: 4, 18). Ke mana pun Abraham memindahkan kemahnya, dia selalu membangun mezbah bagi Tuhan. Mezbah ini menggambarkan kesetiaan kepada Allah. Mata akan melihat apa yang dikasihi hati. Lot tidak memandang kepada Tuhan tetapi kepada kesuburan lembah Yordan. Tanpa adanya mezbah, tanpa adanya hubungan dengan Tuhan, tanpa adanya kesetiaan, Lot berjalan dengan penglihatan dan bukan iman (Kej. 13:10). Apa yang dilihatnya sebagai sesuatu yang subur dan melimpah telah membuatnya menyimpang dari iman kepada Tuhan dengan melupakan Tuhan. Lot memang mudah mendapatkan semua yang dilihatnya, namun semuanya itu juga hilang hanya dalam sekejap (Kej. 19:3). Jika kesetiaan kita kepada Allah lemah, maka kita hanya menunggu waktu untuk hilangnya milik kita.
Kedua, dipenuhi dengan keinginan duniawi (Kej. 13:10). Mezbah persembahan menjaga kita ada dalam perspektif/fokus yang benar yaitu Allah (Mzm. 37:4). Jika kita menempatkan Allah di tempat yang utama sebagaimana seharusnya, prioritas kita pun akan benar. Lot mengutamakan hal duniawi karena keinginan duniawinya. Keinginan rohani hanya ada bila ada persekutuan yang baik dengan Tuhan. Lot memandang pada kekayaan (1Tim. 6:10). Lot menginginkan kesenangan duniawi. Lot memandang pada hal-hal jasmani, Lot mengharapkan hal-hal yang fana, dan Lot kehilangan harta yang kekal.
Ketiga, salah dalam mengambil keputusan (Kej. 13:11). Kita tidak mungkin dapat membuat keputusan yang benar jika kita dipenuhi dengan keinginan duniawi dan tidak lagi setia. Musa mengambil pilihan yang benar karena matanya tertuju kepada yang benar dan mengharapkan yang benar (Ibr. 11:24-25). Dengan keputusan yang salah itu, hilang pula standar hidup Lot. Dia mau mengorbankan kemurnian demi mendapatkan kedamaian semu (19:4-8). Benih keturunannya tidak lagi hidup dalam kebenaran—dua orang binasa di Sodom dan dua lagi karena dosa. Isterinya binasa, kewibawaannya pun lenyap (Kej. 19:14). Kata-katanya tidak lagi punya pengaruh karena hidupnya tidak memberikan kesaksian yang baik. Ingat, jika perilaku pembawa pesan berlawanan dengan pesannya, pesan itu akan menjadi sia-sia.
Saudara, kehidupan Lot merupakan peringatan bagi kita akan bahayanya penyimpangan. Penyimpangan itu dimulai dari pengabaian kesetiaan kepada Allah yang diikuti dengan keinginan duniawi dan keputusan yang salah. Hati-hati jangan sampai Anda menyimpang!—aog

Jumat, 27 Mei 2011

Kematian Tidak Menunggu



Penulis lagu buta, Fanny Crosby, ditanya apakah ada yang lebih buruk selain daripada buta. Ia menjawab, “Ya, memiliki mata tetapi tidak memiliki visi.” Banyak jemaat Tuhan masa kini memiliki masalah karena mampu melihat secara fisik tetapi tidak secara rohani. Tuhan Yesus membahasnya di Yohanes 4. Dia baru saja menyelamatkan seorang perempuan di sumur, dan ia telah pergi ke Samaria untuk mengatakan, “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?” Tidak lama kemudian, para murid berkata kepada Yesus, “Rabi, makanlah.”

Sebagai tanggapan atas kebaikan tapi keduniawian para murid, “Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai” (Yoh. 4:34-35).

Perhatian para murid adalah makanan, tetapi fokus Juruselamat adalah jiwa-jiwa. Ketertarikan mereka adalah perjamuan, ketertarikannya adalah jiwa-jiwa. Dia berkata kepada mereka untuk berhenti makanan yang sementara, dan memandang pada orang banyak yang kekal. Saat itu, perempuan itu mengajak seluruh kota mengikutinya untuk datang kepada Yesus.

Para pemberita dan pengkhotbah harus mengangkat pandangannya dan menolong orang percaya yang mendengarkan beritanya untuk menangkap visi penuaian. Saat Yesus berkata kepada para murid untuk melihat, Dia sebenarnya sedang menasihati mereka untuk melihat dari dekat dan mengamati. Inilah aspek yang Tuhan ingin kita untuk melihat sehubungan dengan tuaian:

Mendesaknya Tuaian
Yesus mengatakan bahwa tuaian sudah menguning, berarti sudah tiba waktunya untuk dituai. Saat gandum masak, warna bulirnya menjadi kuning atau putih cerah, berarti siap untuk dituai. Yesus dan para murid-Nya dapat melihat orang Samaria yang mendekat; mereka adalah ladang yang siap untuk dituai itu.

Paul Rader pernah bercerita tentang tuaian gandum melimpah di Australia yang membusuk di ladang pada masa Perang Dunia I. Karena banyak orang ikut wajib militer, tak ada orang yang tinggal untuk menuai. Itulah kasus “tuailah atau membusuk” (reap or rot). Di Amerika, mungkin ini sulit untuk diterima. Namun, jika kita melihat negara-negara lain di dunia, kisah tentang Yesus akan menjadi hidup. Di Kamboja dan Uganda, respons terhadap berita Injil sungguh menyentuh. Meskipun tuaian di Amerika mungkin tampak sedikit, banyak tempat di belahan dunia ini siap untuk dituai. 

Perintah Allah untuk memberitakan Injil di Mat. 28:19-20; Mrk. 16:15, Kis. 1:8, dll., semuanya dilakukan dengan segera. Meskipun dikatakan hampir lebih dari 2000 tahun yang lalu, murid masa kini harus sibuk dengan pekerjaan Bapa (Luk. 2:49). Paulus benar saat ia menasihati, “Saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya” (Rm. 13:11).

Setelah memberitakan Injil di sebuah desa di Afrika, seorang pria menerima Kristus dan penuh sukacita serta beban. Ia memandang penmberita itu dan berkata, “Mengapa Anda tidak segera datang ke desa kami? Kedua ayah dan ibu saya telah meninggal dan telah pergi ke neraka sebagaimana yang Anda ceritakan.” Kematian memang tidak menunggu!

Dalam Mat. 9:36-38, Yesus kembali memakai tuaian untuk pelajaran para murid. “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."

Kata ‘orang banyak’ di ayat 36 berarti ‘sejumlah besar.’ Kata ‘banyak’ di ayat 37 berarti ‘besar, melimpah.’
Saat ini, lebih 6.7 miliar penduduk mendiami bumi. Penduduk Indonesia 230 juta jiwa. Amerika pun hanya 300 juta jiwa. Populasi dunia adalah 20 kali penduduk Amerika. Itu adalah jumlah yang sangat besar. Para misionaris memperkirakan bahwa setidaknya setengah dari jumlah itu sama sekali belum pernah mendengar Injil dan tiga per empatnya belum pernah menerima paparan Injil secara jelas.

Lebih dari 40 juta orang meninggal tiap tahunya dengan perkiraan 39 juta jiwa belum diselamatkan. Populasi Neraka terus meningkat. Statistik ini bukanlah sekadar jumlag, tiap kepala adalah jiwa yang baginya Yesus Kristus mati. Jiwa yang masak itu akan dituai atau membusuk, ditebus atau binasa. Dari situlah kita bisa memandang besarnya tuaian di mata Tuhan kita.

Setelah dua puluh abad sejarah jemaat, kata-kata Yesus di Matius 9:37 masih berlaku, “pekerja sedikit.” Hanya beberapa gembala, penginjil, dan jemaat sajalah yang benar-benar sadar jiwa. Berapa banyak jemaat yang Anda tahu benar-benar menyala-nyala untuk penginjilan? Bahkan istilah pemenangan jiwa (soulwinning) sudah banyak dicemooh. Penginjilan dianggap terlalu ekstrem.

Ladang misi tidak pernah kebanyakan misionaris. Ada jutaan jiwa yang belum pernah mendengar Injil di kota-kota dan desa-desa di Indonesia. Kota Soweto, Johannesburg, Afrika Selatan, jutaan penduduknya tidak memiliki satu pun jemaat yang memberitakan Injil. Bagaimana di desa dan kota Anda? Banyak kota dan desa yang tidak memiliki jemaat yang mengajarkan kebenaran sejati dan melakukannya!

Nasihat Yesus dalam Mat. 9:38 adalah agar kita, “Minta … kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Banyak gembala berduka karena kenyataan dan fakta hanya sedikit orang yang benar-benar mau terjun ke dalam pelayanan purna waktu. Bagaimana jika jemaat secara khusus mengadakan kebaktian 9:38 semalam suntuk? Berdoalah sungguh-sungguh untuk para pekerja di ladang Tuhan. Berdoalah pula agar jemaat memiliki visi tuaian ini.

--allofgrace--

Rabu, 25 Mei 2011

Bangkit dari Keterpurukan (Luk. 22:54-62)


Mengapa orang seperti Petrus, rasul yang dipakai oleh Tuhan dengan sangat luar biasa, dapat mengalami iman yang sedemikian terpuruk? Petrus yang berkata: Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau! (Luk 22:33), tetapi mengapa masih tetap dapat menyangkal Tuhan? Biar dia seorang rasul atau pengkhotbah besar atau penginjil, dia masih tetap manusia. Benarlah perkataan dalam Rm 3:10: Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Petrus memang melakukan kesalahan, namun dia tidak tetap dalam kesalahannya itu, melainkan dia bangkit dari kesalahannya.
Kita melihat minimal ada 3 hal yang menyebabkan dia dapat bangkit kembali.
Pertama, Petrus ingat akan perkataan Tuhan Yesus (ayat 60-61). Petrus menyangkal Tuhan Yesus sebanyak 3 kali. Pada saat itu, ia lupa akan perkataan Tuhan. Pada saat dia menyangkal Tuhan ketiga kalinya dan Tuhan menatapnya, Ia sadar bahwa ia telah jatuh di titik terendah dalam imannya. Ia telah salah. Namun ketika itu juga, ia ingat akan perkataan Tuhan Yesus. Inilah titik balik dari imannya. Ia memang jatuh di titik terendah, namun dia tidak membiarkan dirinya tetap di dalam titik itu, dia berbalik. Demikian juga dengan kita. Pada saat kita melakukan dosa, kita lupa akan Firman Tuhan. Namun kita harus sama seperti Petrus, kita tidak boleh tinggal di dalam keterpurukan kita, kita harus bangkit, kita harus ingat kembali Firman Tuhan. Dalam II Tim 3:16, Firman Tuhan berfungsi untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, mendidik orang.
Kita harus senantiasa mengingat Firman Tuhan (Mzm 119:11) karena itulah yang menjaga kita agar kita tidak berbuat salah. Apa yang membuat Petrus ingat akan perkataan Tuhan Yesus? Yaitu ketika Yesus menatapnya dan melihat hatinya yang paling dalam. Ketika itu, Petrus tahu bahwa dia telah salah. Dia merasa bahwa dia adalah orang hina yang penuh dengan dosa. Penulis jadi teringat akan syair-syair lagu Sekolah Minggu: "Mata Tuhan melihat apa yang kita perbuat, apa yang baik maupun yang jahat. Oleh sebab itulah jangan berbuat jahat. Ingat! Tuhan melihat!" Allah kita memantau kita di mana pun anda berada dan Dia sekarang sedang menatap anda dan melihat hatimu yang paling dalam, apakah Anda sadar akan dosa-dosa Anda? Maukah Anda seperti Petrus yang tersungkur di depan kaki Yesus?
Kedua, dia menyesal. Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya (ayat 62). Ini adalah ciri-ciri orang yang menyesali kesalahan-kesalahannya. Ia sadar bahwa ia telah melakukan dosa, dia menyesal dan bertobat. Jika kita menyesal tanpa bertobat maka kita akan menjadi seperti Yudas Iskariot. Yudas memang menyesal setelah menjual Yesus dengan harga 30 keping perak. Ia ingin mengembalikan uang itu dan membatalkan transaksi tetapi ditolak oleh para imam. Ia kemudian keluar dan gantung diri. Sungguh tragis, Yudas hanya menyesal tetapi dia tidak bertobat. Jika dia bertobat, dia tidak mungkin melakukan hal yang seperti itu.
Ketiga, setelah itu dia menguatkan saudara-saudaranya (Luk 22:32). Kata 'kuatkanlah' dalam bahasa Yunani strizon yang bisa juga berarti membuat berdiri teguh. Petrus memang pernah jatuh dan dia telah bangkit lagi. Namun semua usahanya tidak sampai di sana, Tuhan menyuruhnya untuk menguatkan saudara-saudaranya yang lain setelah dia mengalami kejatuhan. Biasanya seseorang yang telah jatuh dalam dosa tertentu dan dia dapat bangkit lagi, dia akan semakin dewasa dan memberitahukan teman seiman untuk tidak mengulangi dosa yang sama. Dan menurut catatan, dia adalah seorang rasul terkemuka di antara rasul yang lainnya. Demikian juga dengan kita, kita mungkin pernah jatuh ke dalam dosa dan kita berhasil bangkit dari kesalahan kita, namun Allah tidak menyuruh kita untuk berhenti sampai di sana, Tuhan menyuruh kita untuk menguatkan saudara-saudara kita yang lainnya. Memang kadang-kadang Tuhan pakai kejatuhan kita untuk dijadikan batu loncatan agar kita dapat bertumbuh.
Maukah anda menjadi seorang "Petrus" yang berani mengakui dirinya telah berbuat salah, memandang kepada Yesus yang tahu isi hati kita, menyesali dosa kita, bertobat dari dosa-dosa kita dan setelah itu kita menguatkan saudara-saudara kita yang lainnya?

--allofgrace--

Selasa, 24 Mei 2011

MENGAMPUNI ATAU MENYIMPAN KEPAHITAN? (Ef. 4:31-32)



Pendahuluan:
A.   Konteks ayat ini berhubungan dengan jemaat lokal.
B.   Dalam 1Kor. 5, Paulus membahas tentang anggota jemaat yang berbuat dosa dalam terang disiplin jemaat. Ia dapat dikeluarkan dari jemaat dan diserahkan kepada Iblis. Tampaknya, ia bertobat, tetapi tidak sepenuhnya dipulihkan melakui pengampunan. Orang berdosa ini jadi benar dan jemaatnya yang jadi salah! Kesalahan jemaat itu dibahas di 2Kor. 9.
C.   Tidak mau mengampuni adalah dosa! Bukan hanya kepada orang yang tidak diampuni, melainkan juga kepada Tuhan. Dosa yang tidak diakui pasti akan dihakimi Allah.
D.   Analogi pengampunan adalah sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kita. Allah telah mengampuni kita sepenuhnya. Dia tidak pernah mengungkitnya lagi. Dosa kita terhapus dari pandanganNya.
E.   Tidak mengampuni akan mengakibatkan kepahitan. Kepahitan itu menghancurkan kita dan merusak orang di sekitar kita. Itu harus dihindari dan diatasi dengan cara alkitabiah.

I.       Derap Langkah Kepahitan
1.     Kesalahan menimbulkan luka, baik dengan perkataan maupun perbuatan!
2.     Luka membangkitkan amarah! Jika luka itu tidak ditangani dengan sungguh-sungguh, amarah adalah hasilnya. Amarah yang tidak terkendali disebut murka, amarah yang dipraktikka (bnd. Yak. 1:20)
3.     Amarah menghasilkan kepahitan! Kepahitan selalu dimulai dengan akar yang tidak kelihatan, betapa pun kecilnya, akhirnya akan berbuah juga. Kepahitan ini harus diatasi secara alkitabiah.

II.     Hasil Kepahitan
1.     Memberikan Iblis keuntungan (2Kor. 2:10-11), Kepahitan merupakan cengkeraman setan yang kuat di hati orang percaya.
2.     Membebani orang yang tidak mau mengampuni (2Kor. 2:7). Rekonsiliasi dan pembaruan persekutuan itu tergantung pada dua belah pihak.
a.     Pertobatan oleh orang yang berbuat! Anda dapat mengampuninya sepenuhnya tetapi persekutuan itu tidak bisa dipulihkan. Alkitab mengatakan bahwa kita harus mengampuni 70 kali tujuh kali jika mereka bertobat. Anda bisa mengasihi, berbuat baik, dan mendoakan sambil tetap menjaga jarak.
b.     Pengampunan oleh korban! Tak peduli betapa yang berbuat sudah bertobat dan coba memperbaiki, ia tidak dapat pulih dan bersekutu dengan korban yang tidak mau mengampuni.
3.     Ada kesalahan yang bisa dilakukan kedua pihak: pelaku yang tetap keras kepala atau korban yang tidak mau mengampuni. Ini akan menyakiti orang yang kita kasihi. Kepahitan kita menyakiti orang yang tak bersalah.

III.    Perlindungan Melawan Kepahitan
1.     Realisasi (ay. 31). Kita perlu mempelajari gejala tidak mau mengampuni dan kepahitan. Itu harus disingkirkan. Kita tidak bisa benar di hadapan Allah atau sesama jika kita memiliki keduanya. Jangan-jangan malah belum sungguh-sungguh percaya sehingga mendendam.
2.     Selesaikan (Resolve) (ay. 32). Kita perlu menunjukkan pengampunan dan kebaikan kepada orang yang telah menyakiti kita. Alkitab mengajarkan untuk mendoakan mereka dan melakukan apa yang baik bagi mereka. 
3.   Ingatlah (Remember) (ay. 32). Pengampunan itu sebenarnya berguna bagi kita dan juga orang yang menyakiti kita. Mereka mungkin tidak pernah akan benar; mereka mungkin takkan pernah minta maaf; tetapi kita dapat memiliki damai dengan Allah di hati jika melakukan apa yang benar. Hati nurani yang jernih menjadi alas tidur yang empuk dan nyaman.

--allofgrace--