Tampilkan postingan dengan label Sharpening Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sharpening Life. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juni 2011

Proaktif Menghadapi Kritik


Seringkali, gembala dan keluarganya menghadapi serangan dari orang yang tidak bersahabat. Terkadang, serangan ini, meskipun tidak adil, mungkin mengandung kebenaran. Kita tetap harus memikirkan kemungkinan itu dan menghadapinya dengan benar. Berikut ini ada 13 cara proaktif menanggapi serangan:
1.      Yang terbaik adalah untuk tidak mempertahankan diri. Jika tuduhan itu benar, mintalah pengampunan, rendahkanlah diri, dan cobalah memperbaiki diri. Jika mereka salah, biasanya tidak akan yakin dengan pembelaan Anda. Katakan kepada mereka bahwa Anda percaya bahwa Anda tidak bersalah, tetapi Anda memang tidak sempurna dan akan melakukan yang terbaik untuk memperbaiki hal itu.
2.      Jangan menyerang balik. Jangan membalas. Anda akan kalah jika membalas. Jika serangan tersebut dalam rapat, jangan menjawab serangan itu. Alihkanlah ke masalah yang lain.
3.      Jika anak-anak atau istri Anda diserang, dan Anda tahu bahwa memang demikian, selesaikanlah dengan mereka secara proporsional. Janganlah justru menyerang pengritiknya. Ajaklah pengritik tersebut untuk berdoa bersama Anda bagi anak-anak dan istri Anda. Anda perlu mereka untuk berdoa bersama Anda dan bukan mengritik Anda. Jika serangan itu tidak adil, abaikanlah saja. Berupayalah sekuat mungkin untuk membuat penyerang itu berada di pihak Anda. Jika Anda menganggapnya secara pribadi dan marah, Anda akan membangun tembok dengan penyerang, dan Anda menjadi pihak yang kalah.   
4.      Saat menghadapi kritik, cobalah untuk berhenti dan mundur sesaat dan dapatkan gambaran besarnya. Jangan tenggelam dan sakit hati. Yesus dan Paulus diserang. Mengapa kita berpikir bahwa kita terlalu hebat sehingga tidak ada orang akan menyerang kita? Mungkin, kita memang itu adalah blind spot kita dan hanya bisa terlihat oleh orang lain, dan kiranya Tuhan akan menolong kita menjadi hamba yang lebih berguna melalui serangan-serangan itu.
Kita semua memiliki blind spot. Semakin cepat kita menemukannya, kita akan semakin lebih berguna dalam pekerjaan Tuhan. Ingatkah korban yang harus terjatuh dalam Perjanjian Lama karena dosa pengabaian. Namun, bukan hanya dosa pengabaian, seperti Imam Eli, ada juga bias dan prasangka pribadi yang tanpa sadar yang saya sebut sebagai blind spot (Luk. 6:39, 40). Seringkali, kita mengumpulkan orang yang juga memiliki blind spot yang sama dengan kita sebagai pengikut, dan kita menyingkirkan orang yang tahu blind spot kita dan menolak untuk ikut.
5.      Pandanglah dengan jujur akan apa yang dikatakan kritik tersebut tentang Anda. Orang tidak dapat mengetahui motif-motif Anda, namun mereka dapat menghakimi kata-kata Anda, tindakan Anda, dan cara Anda melakukan sesuatu. Itulah yang seringkali ditentang.
6.      Jika kritik dan reaksi yang sama terjadi lebih dari dua kali, mungkin memang ada sesuatu dengan Anda yang perlu dievaluasi.
7.      Perhatikan orang yang bereaksi terhadap Anda atau mengritik Anda. Apakah ia mengritik semua orang, atau ia biasanya tidak dikenal sebagai pengritik (Ams. 16:7).\
8.      Jika orang Kristen yang baik dan saleh mengatakan dengan tulus dan sungguh bahwa Anda memang berperilaku atau bersikap keliru, percayalah kepadanya.
9.      Ingatlah, bahwa penalaran Anda tentang diri Anda sendiri sering bias sehingga Anda tidak bisa melihat jelas dari bias tersebut. Ada perkataan yang mengatakan, “Manusia berpikir, bukan untuk mengambil keputusan berdasarkan akal sehat, melainkan untuk membenarkan prasangka yang sudah Anda miliki.” Jadi, untuk menemukan blind spot Anda, Anda harus mengembangkan keterbukaan diri dan mengizinkan kritik menolong Anda.
10.  Saat Anda menyendiri dengan Tuhan, khususnya ketika Anda mengakui dosa-dosa Anda, Anda harus secara jujur menguji diri sendiri dan mengizinkan Tuhan menguji Anda lebih lanjut. Charles Spurgeon berkomentar demikian, “Anda akan lebih mendapatkan kesimpulan yang apa adanya/jujur jika Anda mencurigai diri Anda sendiri daripada terlalu percaya pada diri Anda sendiri.”
11.  Hati-hatilah untuk tidak kemudian mengurung diri dalam muram. Janganlah serangan itu membuat kita mundur dari kejujuran dan pekerjaan Tuhan. Selalu ada reaksi terhadap kebenaran. Marilah kita tetap berbicara kebenaran dalam kasih (Rm. 12:3).
12.  Saya pernah membaca bahwa Spurgeon mengumpulkan banyak pamflet kritik melawan dia untuk mengritik dia dalam awal pelayanannya dan bahkan mengklipingnya dan menyimpan di perpustakaannya. Orang yang menulis pamflet itu telah dilupakan, tetapi Spurgeon dan karya dan pelayanannya terus berjalan.
13.  Kita harus menjadikan kritik itu sebagai sahabat, bukan musuh, sehingga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik (bnd. Yak. 1:2-4)

--by allofgrace--

Jumat, 25 Maret 2011

Digoda (Dicobai)


 Saudara, ketika Tuhan ingin membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, Iblis melalui Firaun berusaha dengan tiga cara agar Musa dan Harun berkompromi dengan tetap tinggal di Mesir.
Pertama, mereka digoda untuk berkompromi total (Kel. 8:25). Firaun menawarkan kompromi bahwa orang Israel diperbolehkan untuk menyembah Tuhan Allah mereka di Mesir. Usul ini tampak baik dan lebih mudah. Namun, jika orang Israel terus tinggal di Mesir, berarti Musa dan Harun tidak taat pada perintah Allah. Jika tidak pergi, mereka akan tetapmenjadi budak orang Mesir dan penyembahan mereka hanya akan menjadi agama yang lain di Mesir. Mereka menolak godaan untuk berkompromi itu dan lebih taat kepada Allah.
Kedua, mereka digoda dengan memberi tawaran yang lebih enak dan berkompromi sebagian (Kel. 8:28; 10:8-11). Firaun mengoda Musa dan Harun agar berkompromi sebagaian dengan permohonan mereka pergi ke padang gurun. Mereka boleh pergi menyembah Allah asal “tidak boleh pergi terlalu jauh”. Firaun juga menggoda dengan mengizinkan sebagian Israel pergi, tetapi “perempuan dan anak-anak harus tinggal di Mesir”. Jikalah tawaran tersebut diteriman, berarti orang Israel hanya taat pada sebagian perintah Allah. Ketaatan yang setengah-setengah tidaklah berkenan kepada Allah. Allah menuntut ketaatan mutlak/total/penuh dari anak-anakNya.
Ketiga, mereka digoda untuk tidak melayani (Kel. 10:24). Ketika Iblis, melalui Firaun, gagal menggoda Musa dan Harun untuk berkompromi, dia berusaha mencobai orang Israel agar mereka setuju untuk pergi tanpa melayani Tuhan Allah dengan benar—pergi tanpa persembahan korban, pergi tanpa kambing domba. Padahal, kambing domba dan ternak untuk adalah persembahan korban mereka kepada Allah sebagai bukti pelayanan mereka kepada Allah. Musa dan Harun menolak untuk kompromi dengan Firaun/Iblis. Mereka taat sepenuhnya perintah Allah dan bertekad untuk melayani Tuhan Allah secara total/penuh.
Karena itu Saudara, ingatlah bahwa Iblis terus bekerja untuk menggoda kita. Iblis ingin kita jatuh. Dan kompromi sekecil apapun dengan rencana Iblis, kompromi sekecil apapun dengan cara-cara dunia akan membuat kita jatuh. Lawan dan tinggalkan keinginan-keinginan Iblis untuk menjatuhkan kita (1Yoh. 2:15-16). Tetaplah taat secara mutlak pada perintah Allah dan milikilah komitmen untuk tetap melayani Tuhan apapun yang terjadi pada diri Anda, keluarga Anda, lingkungan Anda, dsb. Tuhan Yesus memberkati.—allofgrace—